January 3

Memilih Best Person untuk Menjadi Seorang Leader

0  comments

January 3, 2023  | ⏱️ min read

by: Lily Johan

“Bu Gia, ngobrol dong. Sumpek nih.” Celetuk Ade, seorang Leader di salah satu perusahaan ternama.

source: www.forbes.com

“Ada apalagi sih, De. Kamu promosi sudah, naik gaji sudah, grading kamu juga sudah naik. Masih saja sumpek.” Timpal Bu Gia, Manager di perusahaan tersebut.

“Ngobrol lah, bu, aku perlu pencerahan.”

“Ok ok, apa sih masalahmu?”

“Aku ini merasa stres dengan pekerjaan, padahal ini kan pekerjaan aku sehari-hari waktu belum promosi. Hanya bedanya kan sekarang ada yang perlu didelegasikan ke tim, tetapi saya merasa masih saja merasah hasil yang dibuat mereka tidak sesuai.” Ucap Ade sembari menghela napas panjang.

“Pernah ditanyakah dengan mereka ketika kamu memberikan instruksi?” Tanya Bu Gia ingin tahu.

“Kan harusnya mereka tahu dong, bu.” Jawab Ade

“Kamu pernah dibekali dengan training seperti leadership, coaching, supervisory sebelum mengemban posisi ini? Atau mungkin coaching berkala atau paling tidak mentoring?” Tanya Bu Gia untuk mengkonfirmasi peryataan Ade

“Gak pernah, bu, langsung saja terjun. Aku juga gak suka materi itu, gak suka dealing with people.”

“Ok, memang kita harus diskusi lebih panjang sepertinya, De.” Jawab Bu Gia dengan mantap.

PENTINGNYA INDIVIDUAL SKILLS

Tidak jarang obrolan seperti itu terjadi ketika dalam perusahaan mempromosikan orang hanya karena individual skill mereka yang luar biasa. Manajemen mengasumsikan bahwa dengan individual skill atau sebagai individual contributor yang bagus, layak dipromosikan dan pastinya akan menjadi berhasil juga tim nya. Manajemen lupa kalau skill set atau kompetensi yang dibutuhkan itu tidak sama, sehingga mereka dengan mudahnya menempatkan atau mempromosikan. Tidak jarang orang bagus ketika mendapat promosi menjadi stagnan atau malah menurun secara kinerja karena ada skill set atau kompetensi yang tidak sesuai atau belum ada.

source: www.wsj.com

Umumnya korporasi melakukan assessment untuk kenaikan promosi, tetapi yang mereka lupa adalah tindak lanjut dari laporan tersebut. Atau hasil assessment hanyalah formalitas sebagai lampiran jika ada audit bertanya mengenai proses promosi. Tidak jarang sebenarnya manajemen sudah tahu target siapa yang akan dipromosikan dan bersifat final, assessment hanya pelengkap. Sayang sekali jika ada yang melakukan hal ini. Kalaupun ada korporasi melakukan follow up, pendekatannya tidak dengan meningkatkan self-awareness dari karyawannya. Sehingga tindak lanjutnya dianggap bukan hal yang urgent bagi karyawan dan tidak tahu manfaatnya untuk  yang bersangkutan.

TOOLS ADALAH KUNCI

Di sini kami dari Knowdell Career Indonesia ingin membantu korporasi untuk mempermudah melakukan coaching, jika terjadi masalah seperti di atas. Kami memiliki coaching tools bernama Knowdell Card Sorts. Tools ini akan membantu korporasi untuk melakukan coaching dengan orang yang akan promosi atau rotasi atau transisi, bahkan menyiapkan karyawan yang akan pensiun. Bermain Knowdell Card Sorts mampu menyadarkan mereka akan skill apa yang memotivasi mereka, skill mana yang harus dikembangkan, bahkan sampai dengan burnout area mereka yang harus dikelola sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan. Jika dilakukan sebelum proses transisi terjadi menduduki posisi baru, mereka akan lebih siap dan memahami diri sendiri dibandingkan dengan tidak tahu sama sekali. Respon yang muncul bete, gelisah, marah, stress.

Dengan metode yang simpel, Knowdell memperkenalkan 4 tahapan proses sebagai berikut:

  • Self-awareness
  • Explore Option
  • Focus
  • Action

Metode yang simpel dan cukup efektif untuk melakukan self-assessment terhadap karyawan-karyawan yang mau melakukan transisi pekerjaan. Sehingga coach atau manager di dalam korporasi dapat mengerucutkan apa yang perlu dikembangkan dan dikelola dari mereka.

Knowdell Sort Cards, memiliki 4 jenis kartu, sebagai berikut :

  1. Motivated Skills
  2. Career Values
  3. Occupational Interest
  4. Leisure and Retirement

Kartu-kartu tersebut berupa tools untuk menjembatani mereka dalam melakukan coaching, dan cukup efektif untuk membukakan mata coachee untuk move on.

Kutipan percakapan di awal merupakan kejadian nyata, di mana coach membantu melakukan proses coaching dengan bantuan kartu Motivated Skill. Di dalam sesi coaching ditemukan bahwa yang menjadi burnout area Ade adalah multitasking. Setelah digali lebih dalam, ternyata saat ini dia sebagai leader, banyak hal yang standarnya tidak sama antara dia dan timnya. Dengan statement Ade yang tidak tidak suka “dealing with people”, dipemetaan kartu Knowdell memang terbukti bahwa teaching, train, mentoring, superivisi dan coaching adalah skill yang menurut dia tidak pernah dan tidak suka, bahkan tidak memiliki kemampuan.

Akar masalah burnout area yakni multitasking disebabkan karena banyaknya re-work pekerjaan timnya. Ade lebih memilih mengambil alih pekerjaan daripada melakukan feedback kepada mereka untuk perbaikan. Kerap kali Ade menyampaikan instruksi yang penjelasannya kurang detail, tidak pernah memonitor apakah memang subordinnasinya mengerti. Ade selama ini hanya berasumsi “harusnya mereka paham”, tidak pernah melakukan “coaching” kepada timnya, semua yang Ade lakukan dengan metode “telling” dan standarnya asumsi “harusnya …”.

ACTION PLAN

Peran pengelolaan SDM adalah bagian yang penting untuk sebagai seorang leader, akhirnya Ade merasa harus memotivasi dirinya untuk mau belajar dan mengembangkan diri untuk dari sisi SDM. Diharapkan kedepannya pekerjaan detail yang membutuhkan multitasking berkurang, dan Ade dapat fokus di pekerjaan yang lebih strategis dan memonitor divisinya. Ade pun dapat membuat action plan dan milestone untuk tindak lanjutnya dengan spesifik.

Jika korporasi melakukan terlebih dahulu di awal dan mempersiapkan mereka yang akan melakukan transisi pekerjaan, situasi sumpek, burnout, bete mungkin akan dieliminasi. Karena diawal mereka sudah disadarkan dan diyakini akan pentingnya skill untuk pekerjaan barunya. Waktupun tidak ada yang terbuang karena tersendat masalah kepemimpinan.

Kemudahan tools coaching yang dipilih adalah salah satu faktor yang membantu kesuksesan masalah leadership dalam perusahaan. (Scale up your career with our experienced coach)

Mari berproses bersama (ikuti workshop dari Knowdell) untuk meningkatkan produktivitas perusahaan Anda, tanpa perlu terhambat karena ada langkah yang terlewatkan dalam memilih orang terbaik untuk dipromosikan.

Related Article

Anda dapat LANGSUNG BERTANYA pada tim kami untuk informasi PRODUK KAMI lebih lanjut.


KLIK untuk terhubung.

>